Blog ini berisi Artikel dan Tata Cara Beribadah

Saturday, 21 February 2015

Black Hole atau Lubang Hitam,,, 
mungkin agak asing di telinga anda apakah Black Hole itu, apakah hanya sebuah lubang berwarna hitam yang ada di sekitar kita ataukah lubang hitam di bumi ini???

Tentu bukan itu maksudnya....
Black Hole adalah sebuah lubang hitam di luar angkasa yang diameternya 15-tak terhingga kali ukuran matahari kita, dan mampu menyedot apapun yang didekatinya. Berikut bagan terjadinya Black Hole : 



Penjelasan :
Semua bintang yang ada di alam semesta ini berasal dari satu komponen saja yaitu pada masa yang disebut dengan "Big Bang ". Sebagaimana dalam firman Allah :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ 
Maksudnya: "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS Al-Anbiya' : 30)

Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa dulunya semua komponen di alam hanya terkumpul pada satu fase saja dan Allah memisahkannya menjadi triliuan bagian. Bagian-bagian tersebut kebanyakan menjadi debu-debu kosmis (bahan ini bintang), kemudian menjadi Proto Bintang (lebih mudahnya bayi bintang). Dari Proto Bintang, fase-fase dari bintang pun mulai terjadi, ada yang menjadi Bintang Maharaksasa, Bintang Raksasa, Bintang Deret Utama, Bintang Katai, dan Bintang gagal.
Disini saya akan mengulas tentang Bintang yang akan menjadi Black Hole saja, bintang yang lain, nanti bisa pembaca ingatkan, biar saya posting di lain kesempatan.

Black Hole terbentuk dari Fase pertama yang bernama Proto Bintang, yaitu cikal bakal dari bintang. Fase kedua agar menjadi black hole, proto bintang harus menjadi Bintang Maharaksasa dan Bintang Raksasa. Bintang Maharaksasa adalah bintang yang besarnya > 15 kali matahari, sedangkan Bintang Raksasa besarnya > 10 kali matahari. Mengapa hanya kedua bintang itu yang bisa menjadi Black Hole? Karena disamping syarat bintang menjadi Black Hole harus terbuat dari bintang yang besarnya > 10 kali matahari, Black Hole juga harus memiliki massa yang ratusan kali massa matahari, yang mana nantinya akan terjadi degenerasi pada inti bintang itu. Fase ketiga yaitu apabila bintang sudah kehabisan bahan bakarnya (Hidrogen), maka Atom Helium yang dihasilkan dari proses fusi nuklir bintang akan juga berproses untuk menghasilkan panas, dan jika Helium juga habis, maka inti dari bintang akan mengalami degenerasi, yaitu meluruhnya inti bintang dari pusatnya. Hal ini akan mengakibatkan produksi atom Besi akan bertambah cepat, sehingga massa bintang menjadi overdosis dan memungkinkan bintang akan meledak. Ledakan ini akan mengakibatkan bagian-bagian dari suatu bintang menjadi berkeping-keping. Tetapi inti dalam bintang terus mengalami rotasi atau perputaran karena hanya materi besi saja yang meledak, perputaran itu sangat cepat sehingga inti bintang akan memiliki gravitasi yang sangat besar. Dari gravitasi yang besar tersebut maka bintang akan bisa menarik materi-materi yang ada di sekitarnya. Anehnya gravitasi ini tidak terlihat (invisible) dan hanya bisa diketahui jika ada materi yang tersedot kedalamnya. Karakteristik Black Hole seperti yang sudah saya uraikan diatas ternyata 1400 tahun lebih dulu diinformasikan dengan jelas di dalam Alqur'an surat At-Takwir 15-16 :

فَلا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ (١٥) الْجَوَارِ الْكُنَّسِ (١٦
Artinya : "Aku bersumpah demi bintang tersembunyi. Yang bergerak cepat yang menyapu."

Dari ayat di atas bisa kita artikan bahwa Allah bersumpah pada satu makhluknya yaitu bintang. Yang pertama adalah خُنَّسِ artinya "tersembunyi", sesuai dengan karakteristik asli black hole yang invisible atau tidak bisa dilihat oleh alat apapun. Yang kedua الْجَوَارِ yang artinya "bergerak cepat", juga sesuai dengan karakteristik black hole yang memiliki rotasi inti yang sangat cepat. Yang ketiga adalah الْكُنَّسِ yang artinya "menyapu". Sekali lagi ini memang tergolong karakteristik Black hole yaitu menyapu (menyedot) materi-materi yang ada di sekitarnya. Ibarat di rumah kita adalah vacuum cleaner yang bisa menyedot debu-debu. Ketiga karakteristik dalam Alquran itu sudah bisa menjadi bukti bahwa Alquran telah menginformasikan kejadian alam yang sangat dahsyat ini 14 abad yang lalu dan baru terbukti akhir-akhir ini oleh teleskop Hubble. 
Berikut ini video cuplikan bagaimana cara kerja Black Hole :


Masih ragukah anda dengan agama islam yang memang bersumber dari sang pencipta alam semesta ini???
Jika anda masih ragu, mungkin fikiran anda harus diubah lagi.


Semoga Bermanfaat.

Wednesday, 18 February 2015

Ta'aruf
Para pembaca pasti tau apa itu Ta'aruf. Ta'aruf adalah proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Tapi tahukah anda bahwa jaman sekarang Ta'arufan sama seperti pacaran????



Mungkin anda heran, mengapa Ta'aruf jaman dulu sama sekarang sudah sangat jauh berbeda. Itu disebabkan karena globalisasi atau pengaruh budaya barat yang semakin mempengaruhi Islam. Globalisasi ini membuat semua orang merasa berbeda dan mau tidak mau kehidupan pun harus mengikuti arus perkembangan dunia. Begitu juga dengan agama, agama harus bisa mengikuti perkembangan jaman agar tidak menjadi agama yang kuno alias "NDESIT". Tapi alhamdulillah agama Islam adalah satu-satunya agama yang paling dinamis diantara semua agama di dunia.

Kembali lagi ke Ta'aruf....
Ta'aruf biasanya dilakukan untuk proses pengenalan diri bagaimana kondisi diri sendiri dan keluarga yang biasanya bertujuan agar mereka menikah. Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin maju, pemuda-pemudi Islam sering menyalahgunakan Ta'aruf sebagai bahan alasan untuk saling memiliki, padahal sebenarnya mereka belum berniat untuk segera menikah. Jadi mereka menganggap Ta'aruf sebagai salah satu cara pacaran secara islami. Ketika mereka ditanya apakah sudah memiliki pacar??? Maka biasanya mereka menjawab "Tidak punya", tetapi mereka sedang menjalani Ta'aruf dengan orang lain. Sungguh sangat ironis sekali melihat para remaja islam jaman sekarang, mereka tidak mengetahui arti sesungguhnya Ta'aruf. Mereka melakukan Ta'aruf belum pada waktunya dan sikap mereka sudah sama seperti pacaran. Padahal pacaran itu salah satu jalan menuju perzinaan. Dan Zina adalah dosa yang sangat besar sehingga sulit dimaafkan oleh Allah, seperti dalam ayat :

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

Artinya : "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al Isra : 32)

Dari ayat diatas sudah dapat kita pahami bahwa zina adalah suatu pebuatan yang keji yang sangat dibenci oleh Allah. Yang perlu digaris bawahi maksudnya adalah kita mendekat saja tidak boleh, apalagi melakukannya. Dengan melakukan suatu hal yang mengarah pada perzinaan maka akan terjadi hal-hal yang sangat merugikan bagi orang tersebut, seperti akan tersebarnya fitnah, penyakit hati dan penyakit badan akan datang bermunculan akibat perzinaan. Banyak orang setuju bahwa awal dari perzinaan adalah berawal dari pacaran. Dengan berpacaran biasanya seseorang akan melakukan hal-hal yang tidak karuan , seperti pegang sana-sini, berpelukan, berciuman, atau sampai melakukan hubungan suami istri yang sangat tidak layak untuk dilakukan. Perlu diketahui bahwa budaya pacaran adalah budaya dari barat. Budaya barat mempertontonkan cara berpacaran melalui televisi atau media massa yang lain. Itu mereka gunakan sebagai cara untuk melumpuhkan agama Islam di dunia. Dengan semakin lumpuhnya agama islam di dunia, maka mereka akan dengan mudah menjajah dan mengusir peradaban dan perkembangan islam di dunia.

Maka dari itu, sudah sepantasnya kita mengingatkan kepada pemuda-pemudi islam agar tidak menganggap Ta'aruf sebagai cara berpacaran secara islami. Kita harus mengingatkan bahwa Ta'aruf dilakukan saat akan menikah saja. Ya kira-kira maksimal 6 bulanan sebelum akhirnya resmi menikah. Jangan seperi budaya-budaya anak jaman sekarang yang Ta'arufnya sejak mereka masih duduk di bangku sekolah, alasannya mereka ingin mempertahankan hubungan mereka sampai menikah. Padahal belum tentu dalam rentang waktu yang panjang itu mereka bisa mempertahankan hubungan mereka. Ini juga sangatlah menyimpang dari makna Ta'aruf yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah mengajarkan kita cara berta'aruf yang benar agar disaat sudah menikah tidak menyesal. Jadi contohlah Rasulullah ketika akan melakukan sesuatu, jangan melakukan sesuatu tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah.

Tuesday, 17 February 2015

Kiamat....
Sebuah kata yang sangat menyeramkan bagi saya, dan mungkin bagi pembaca sekalian. Betapa tidak menyeramkan, dunia dan seisinya akan hancur lebur, dan tak ada satu pun yang hidup kecuali Allah. Bencana alam yang sangat dahsyat terjadi di dunia ini, mulai dari meletusnya gunung-gunung sampai Tabrakannya Bumi dengan Matahari.... Memang sangat menyeramkan bukan?



Yah memang sangat menyeramkan. Karena kiamat itu sejelek-jeleknya bencana dan semenakutkannya bencana.  Tentunya umat Islam di seluruh dunia pasti mengerti akan adanya kiamat nanti, itu dikarenakan mereka mempercayai (iman) dengan hari akhir yang sudah mereka imani di Rukun Iman. Dari dulu, umat islam maupun non islam senang berspekulasi mengenai datangnya kiamat. Mereka sangat meyakini bahwa kiamat akan segera terjadi. Mereka berspekulasi dengan menghubung-hubungkan tanda-tanda kiamat. Berikut tanda-tanda kiamat yang biasanya banyak diperbincangkan :

1.  Zina bermaharajalela
Adalah Zina yang sering disebut-sebut sebagai tanda-tanda kiamat besar. Sebenarnya zina dari jaman Rasulullah SAW sudah ada, buktinya banyak kalangan raja-raja seperti Raja Bizantium ataupun Raja Persia yang sengaja memiliki wanita-wanita untuk memuaskan hasratnya.

2. Pemimpin yang terdiri dari orang yang jahil dan fasik
Banyaj sekali orang-orang yang menyebut pemimpin sekarang terdiri orang-orang yang dzalim dan kejam. Tetapi asal anda tau, bahwa pada masa Dinasti Mongolia (setelah Dinasti Abasyiah hancur) yang rajanya bernama Hulagukhan, telah membantai rakyat-rakyat yang tidak patuh terhadapnya dan menerapkan sistem pemerintahan yang sangat tidak manusiawi.

3. Bermaharajalela alat muzik
Alat musik jaman sekarang memanglah sangat banyak macamnya, mulai dari genre Pop, Rock, R n B, dll. Tapi masalahnya, pada jaman Nabi juga sudah banyak sekali nyanyian atau musik untuk kesenian adat mereka. Bahkan pada saat Nabi Hijrah ke Madinah, beliau disambut dengan nyanyian-nyanyian sambutan.

4. Menghias masjid dan membanggakannya
Ini dia yang biasanya membuat orang salah kaprah. Dari dulu memang disunnahkan untuk memperias masjid agar terlihat indah, buktinya pada jaman Rasulullah pembangunan masjid Nabawi sangat megah pada waktu itu. Ada juga masjid yang ada di Turki, yaitu Masjid Al Fatih yang dibangun oleh Sultan Muhammad Al Fatih pada Dinasti Turki Usmani.

5. Orang hina mendapat kedudukan terhormat
Memang jaman sekarang banyak orang hina duduk di kursi pemerintahan, tapi yang paling tdk masuk akal, jika orang langsung saja menuduh bahwa pemimpin sekarang semuanya dzolim tanpa mengetahui sifat asli dari orang tersebut.

6. Bulan sabit kelihatan besar
Ini nih yang paling tidak masuk akal, orang beranggapan bahwa semakin lama bulan sabit khususnya semakin besar, padahal kalau menurut ilmu astronomi, jarak antara bulan dan bumi adalah selalu sama dalam orbitnya, maksudnya bulan bisa terlihat besar karena periode bulan sedang berada pada titik terdekat dengan bumi (Perihelion)

7. Orang akan melakukan homoseksual & lesbi
Homoseksual atau lesbi memang sangat gencar akhir-akhir ini, tapi masih kalah gencar dengan yang terjadi pada masa Nabi Luth di Mesopotamia. Banyak orang suka dengan sesama jenisnya. Jika sekarang muncul lagi, itu karena penyakit sifat keturunan yang diturunkan secara turun-temurun dari dulu hingga sekarang.
Dan Tanda-Tanda yang lain lah pokoknya.....

APAKAH ANDA SEMUA TIDAK TANDA-TANDA YANG LAIN SEPERTI INI :

1.Turunnya Imam Besar yang adil dari keturunan Rasulullah (IMAM MAHDI).

2. Dajjal yang akan membawa fitnah besar yang akan meragut keimanan, hinggakan ramai orang yang akan terpedaya dengan seruannya.

3. Turunnya Nabi Isa alaihissalam ke permukaan bumi ini. Beliau akan mendukung pemerintahan Imam Mahadi yang berdaulat pada masa itu dan beliau akan mematahkan segala salib yang dibuat oleb orang-orang Kristian dan beliau juga yang akan membunuh Dajjal.

4.  Keluarnya bangsa Ya'juj dan Ma'juj yang akan membuat kerosakan dipermukaan bumi ini, iaitu apabila mereka berjaya menghancurkan dinding yang dibuat dari besi bercampur tembaga yang telah didirikan oleh Zul Qarnain bersama dengan pembantu-pembantunya pada zaman dahulu.

Dalam sebuah hadis shahih dikatakan, nanti sebelum kiamat Imam Mahdi akan memimpin pasukan islam untuk berperang melawan Yahudi, Nasrani, Romawi, dan Penguasa Arab yang jahil. 
Dari hadis itu sudah kita pahami bahwa kiamat masih lama, ini dikarenakan Imam Mahdi, Nabi Isa, Dajjal, Ya'juj Ma'juj belum juga datang. Banyak adzan masih berkumandang di dunia, malahan banyak orang di Eropa masuk islam. Belum lagi nanti juga Nabi Isa akan menguasai dunia selama 40 tahun dengan dunia bernafaskan Islam. Maka dapat saya simpulkan bahwa kiamat masih lama, Jadi... Kita masih diberi waktu oleh Allah untuk senantiasa bertaubat agar bisa selamat dunia dan akhirat.

Tuesday, 30 December 2014

Dalam surat Al Kahfi dikisahkan tentang Nabi Khidir, Raja Iskandar Zulkarnain, dan Ashabul Kahfi. Dalam pos kali ini kita akan mengkisahkan tentang kisah Ashabul Kahfi.

Ashabul Kahfi adalah nama 6 orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika terjadi peperangan di negaranya, mereka lari dan bersembunyi di dalam Goa. Berikut ini cerita selengkapnya….


Kisah ini dikisahkan pada kitab Fadha’ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya .

Kisah ini terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanus. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana yang sangat megah.

Istana yang sangat megah terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh  (18 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi.

Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala. Mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam.

Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja.

Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri. Nama tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan.

Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya. Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.

Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai “tuhan” dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.

Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah s.w.t.

Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala.

Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan –seorang cerdas yang bernama Tamlikha– memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: “Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan.”

Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: “Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?”

“Teman-teman,” sahut Tamlikha, “hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur.”

Teman-temannya mengejar: “Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?”

“Sudah lama aku memikirkan soal langit,” ujar Tamlikha menjelaskan.”

Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: ‘siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah?

Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu?

Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?’ Kemudian kupikirkan juga bumi ini: ‘Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala?

Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?’ Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: ‘Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius’…”

Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: “Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!”

“Saudara-saudara,” jawab Tamlikha, “baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!”

“Kami setuju dengan pendapatmu,” sahut teman-temannya.

Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.

Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: “Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar.”

Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.

Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya: “Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?”

“Aku mempunyai semua yang kalian inginkan,” sahut penggembala itu. “Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!”

“Ah…, susahnya orang ini,” jawab mereka. “Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?”

“Ya,” jawab penggembala itu.
Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: “Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian.”

Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya yang bernama Kitmir.

Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.

Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: “Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t.” Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi.

Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua.”

Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua.

Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.

Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.

Kepada para pengikutnya ia berkata: “Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!”

Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: “Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu.”

Dalam gua tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.

Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: “Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!”

Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: “Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi.”

Tamlikha kemudian berkata: “Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!”

Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah.”

Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: “Kusangka aku ini masih tidur!” Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: “Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?”

“Aphesus,” sahut penjual roti itu.

“Siapakah nama raja kalian?” tanya Tamlikha lagi. “Abdurrahman,” jawab penjual roti.

“Kalau yang kau katakan itu benar,” kata Tamlikha, “urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!”

Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.

Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: “Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!”

“Aku tidak menemukan harta karun,” sangkal Tamlikha. “Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!”

Penjual roti itu marah. Lalu berkata: “Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?”


Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: “Bagaimana cerita tentang orang ini?”

“Dia menemukan harta karun,” jawab orang-orang yang membawanya.

Kepada Tamlikha, raja berkata: “Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat.”

Tamlikha menjawab: “Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!”

Raja bertanya sambil keheran-heranan: “Engkau penduduk kota ini?”

“Ya. Benar,” sahut Tamlikha.

“Adakah orang yang kau kenal?” tanya raja lagi.

“Ya, ada,” jawab Tamlikha.

“Coba sebutkan siapa namanya,” perintah raja.

Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: “Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?”

“Ya, tuanku,” jawab Tamlikha. “Utuslah seorang menyertai aku!”

Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: “Inilah rumahku!”

Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: “Kalian ada perlu apa?”

Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: “Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!”

Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: “Siapa namamu?”

“Aku Tamlikha anak Filistin!”

Orang tua itu lalu berkata: “Coba ulangi lagi!”

Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: “Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka.”

Kemudian diteruskannya dengan suara haru: “Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!”

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: “Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?”

Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.

“Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua.

Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: “Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!”

Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: “Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!”

Tamlikha menukas: “Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?”

“Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,” jawab mereka.

“Tidak!” sangkal Tamlikha. “Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!”

Teman-teman Tamlikha menyahut: “Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?”

“Lantas apa yang kalian inginkan?” Tamlikha balik bertanya.

“Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga,” jawab mereka.

Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: “Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!”

Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua.

Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.

Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu.”

Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu.”

Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman:

“Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka, supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa Saat itu tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam urusan mereka, maka mereka berkata, “Binalah di atas mereka satu bangunan; Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka.” Berkata orang-orang yang menguasai atas urusan mereka, “Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid.”

Demikianlah hikayat tentang Ashhabul Kahfi, kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha ‘ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad.


Semoga Bermanfaat.

Tuesday, 16 December 2014

Pengertian Puasa Tarwiyah dan Arafah
 
Puasa Tarwiyah adalah puasa yang dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. Dikatakan hadits ini dloif (kurang kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dloif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadla'ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 Dzulhijah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Sebenarnya bukan 2 hari itu yang diutamakan, tetapi 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, sesuai hadits nabi :
Diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, walaupun jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya atau menjadi syahid. (HR Bukhari).

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Adapun keutamaan puasa sunah Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan Arofah (9 Dzulhijjah) bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji berdasarkan beberapa hadist Nabi adalah:

1. Barang siapa yang menjalankan Puasa Tarwiyah akan dihapus dosa satu tahun silam yang telah terlewati.

2. Sedangkan yang berpuasa di hari arofah akan dihapus dosa dua tahun (1 tahun lalu dan 1 tahun yang akan datang). Sesuai dengan hadits :
صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَاشُوْرَاَء يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً
Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat. (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah)

3. Dan yang melaksanakan dua puasa ini akan dianugrahi oleh Allah SWT dengan 10 macam kemuliaan, yaitu:

a.   Allah akan memberi keberkahan pada umumnya.
b.   Allah akan menambah harta.
c.    Allah akan menjamin kehidupan rumah tangganya.
d.   Allah akan membersihkan dirinya dari segala dosa dan kesalahan yang telah lalu.
e.    Allah akan melipatgandakan amal dan ibadahnya.
f.     Allah akan memudahkan kematiannya.
g.   Allah akan menerangi kuburnya selama di alam Barzah.
h.   Allah akan memberatkan timbangan amal baiknya di Padang Mahsyar.
i.     Allah akan menyelamatkannya dari kejatuhan kedudukan di dunia ini.
j.     Allah akan menaikkan martabatnya di sisi Allah SWT.

Niat Puasa Tarwiyah :



Niat Puasa Arafah :



Semoga Bermanfaat.